Sabtu, 09 September 2017

Romantisme Rumah Tangga Saya


Di sesi sharing bareng adek adek jomblo saliha kemaren, saya diminta cerita tentang romantisme kehidupan rumahtangga saya. Alasannya, saya menjemput jodoh tanpa pacaran. Penasaran mereka gimana interaksi saya dengan suami.

Bertemu jodoh dengan jalan ta’aruf saya syukuri banget. Sebab dari kajian Islam yang saya dapatkan, saya meyakini jodoh yang baik akan ketemu kalau jalan yang ditempuh baik pula. Seperti janji Allah swt dalam al qur’an, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, demikian sebaliknya.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan suami saya, harapan dulunya cukup terpenuhi. Dua hal yang paling saya harapkan dulu, punya suami yang nggak galak, nggak suka bentak dan cinta ilmu.

Kenapa yang nggak galak? Ceritanya saya sejak kecil diperlakukan galak oleh adik ibu yang merupakan satu-satunya lelaki di rumah. Maksud tulang saya barangkali mendidik. Supaya saya disiplin, kalau melanggar aturan maka saya akan dapat hukuman bentakan dan pukulan.

Udah bosan diperlakukan kasar, mohon betul sama Allah swt jodoh saya kelak bersikap lembut. Nggak mukul dan nggak bentak.

Selasa, 05 September 2017

Venny, Remaja Hebat


Awal kenal remaja Medan satu ini, Venny Eriska, bisa dibilang nggak sengaja sih. Udah lama nggak main ke Grup Fb Blogger Medan, beberapa waktu belakangan mulai kunjungan rutin lagi. Eh ketemu satu postingan Venny berisi cerita traveling di vlog pribadinya. Ini dia https://www.youtube.com/watch?v=6RFj927gCeE&t=272s.

Kunjungan pertama menghantarkan saya ke video Venny lainnya. Disitu saya ketahui Venny remaja yang sedang belajar seputar dunia pembuatan film. Doi juga hobi nulis dan baru saja menelurkan buku berjudul “Bekerja Bukan Untuk Uang”. Buku itu adalah buku ketiga Venny. Buku pertama dibuat saat Venny SMP.

Saya pikir Venny salah satu remaja yang tidak biasa. Dia istimewa dengan hobi menulisnya. Ditambah lagi sejak muda ia sudah berhasil membentuk cita-citanya yaitu menginjakkan kaki ke Jepang untuk belajar tanpa biaya orangtua alias beasiswa. Tak heran meski usianya kini masih tujuh belas tahun tapi aktivitas Venny cukup terarah. Karya buku dan Vlognya membuktikan hal itu.

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan main ke rumah Venny. Kita janjian ketemu karena saya pengen beli buku terbaru Venny plus buku keduanya Novel “Sensei”. Tiba di rumah Venny saya bersama seorang teman disambut ibu Venny. Ternyata Venny belum pulang sekolah. Agak kecewa juga sih, soalnya udah janjian.

Untungnya sembari menunggu Venny pulang ibunya menemani dengan terus bercerita tentang Venny. Ibu Venny tampak begitu bangga sama anak pertama beliau itu. Pujian demi pujian terus mengalir dari lisan ibu Venny untuk anak kesayangan.

Selasa, 22 Agustus 2017

Panggung Buram

Aku Islam

“Ra, kan gak harus buka kerudung. Kamu tetap bisa ngemsi berpakaian adat tanpa buka kerudung kan.”

Vira hanya diam. Pena dalam genggaman gadis berkerudung, berkulit putih dan berhidung mancung itu menari-nari di atas buku yang sedang ditatapnya. Ia asyik melengkapi catatan pelajaran kemarin. Terpaksa ia ketinggalan pelajaran karena latihan membawakan acara pada perpisahan kakak kelas nantinya. Ucapan sohibnya tak dihiraukan. Baginya ocehan Titin hanya angin lalu. Ia sudah lama menunggu moment itu. Berdampingan dengan Rangga dan cuap-cuap berdua di atas panggung.

Titin menatap terus ke arah Vira, berharap Vira membalas tatapannya dengan binar penyesalan. Namun sia-sia. Vira tetap bergeming. Titin melemparkan pandangannya ke arah jendela. Ia mencoba mencari-cari kalimat apa yang dapat menyentuh pedirian sahabatnya itu. Ia tak rela, hanya karena pesona dunia Vira lemah. Ia yakin kebahagiaan hanya angan bila justru menjauh dari Sang pemilik kebahagiaan. Titin ingin Vira sadar.

“Ra, aku sayang sama kamu. Makanya aku ngingatin kamu. Bukankah wujud kasih sayang tertinggi bagi saudara seiman adalah nasehat pada agama? Nggak mungkin aku biarkan sahabatku lupa sama Allah.”

Vira menghentikan laju penanya. Rayuan Titin dibalas dengan tatapan garang. “Kamu nggak usah lebay amat deh. Aku masih salat. Aku masih tutup aurat. Aku cuma pengen terlihat sempurna saja di acara nanti. Lagian niatku baik kok. Mau melatih diriku supaya lebih percaya diri di atas panggung. Pakaian adat batak samosir tuh lebih alami terlihat kalau aku pakai sanggul. Aku cuma akan buka kerudung sekali ini saja. Kamu berhenti meneror aku. Dasar nyinyir.”

Puas meluapkan kekesalan Vira membereskan bukunya dan bergegas meninggalkan kelas. Titin terdiam. Ia tak menyangka begitu cepat Vira berubah. Rasanya baru kemarin mereka jalan bareng ke musala sekolah SMA Negeri 2 Medan itu, mengikuti kajian rutin yang diadakan oleh bagian keputrian OSIS .

Masih tergiang-ngiang di telinga Titin, harapan Vira untuk tak lagi buka kerudung setelah memahami materi tentang aurat. Vira pun ingin mulai belajar pakai jilbab[1]. Titin rindu Vira yang dulu. Vira yang menyambut nasihat Islam dengan antusias. Vira yang berusaha segera mempraktekkan ilmu Islam begitu ia memperolehnya. Vira yang hanif, yang mudah tersentuh kebenaran. Kini Vira telah melupakan tekadnya, sejak kenal Rangga.

Minggu, 13 Agustus 2017

Mewujudkan Ekonomi Yang Sehat

(Review Buku)

Judul Buku   : Ekonomi Islam Mazhab Hamfara Jilid 2
                        Ekonomi Pasar Syariah
Penulis          : H. Dwi Condro Triono, Ph.D
Penerbit        : Irtikaz
Tahun terbit   : 2017
Ketebalan     : 380 hal
ISBN             : 978-602-72973-2-6

Pakar ekonomi Islam, Dwi Condro Triono pernah mendapatkan pesan Whatsapp dari seseorang. Isinya pernyataan dukungan pada kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi bahan bakar minyak (bbm). Alasannya, langkah pemerintah sudah sesuai dengan Islam.

Dalam hadist Rasulullah saw ada larangan mematok harga jual. Maka melepas harga jual bbm ke pasar dianggap langkah yang tepat. Orang tersebut sedang protes pada pak Dwi yang mengkritik kebijakan pencabutan subsidi oleh pemerintah. Bagaimana menurut anda?

Pak Dwi, yang merupakan penulis buku ini pun meluruskan pemahaman orang tersebut. Memang benar, bahwa Rasulullah saw melarang pedagang untuk mematok harga.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allahlah yang mematok harga, yang menyempitkan dan yang melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap bertemu Allah dalam kondisi tidak seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan harta.”(HR. Abu Dawud).

Tapi rupanya, dalil ini belum lengkap. Masih ada dalil lainnya. Rasulullah saw bersabda: “Kaum muslim berserikat pada tiga hal; air, rumput & api. Dan harganya adalah haram.”(HR. Ibnu Majah).

Bila dipahami dengan benar, maka maksud larangan mematok harga adalah ditujukan kepada barang dagangan selain dari air (laut/ sungai), rumput (hutan/ pulau) dan api (energi).

Ketiganya menurut Islam terkategori sebagai kepemilikan umum. Jadi bbm sebagai bagian dari energi tak seharusnya dijadikan komoditas bisnis, melainkan harus dikelola negara dan hasilnya digunakan untuk memberi pelayanan pendidikan, kesehatan maupun keamanan kepada rakyat secara cuma-cuma. Itulah jawaban yang tepat. Dan peristiwa tersebut menjadi contoh kesalahpahaman umat pada ekonomi Islam.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Muslim Produktif

foto suami waktu menemani saya belanja
Produktif, kata yang digunakan untuk menyebut seseorang yang mampu menghasilkan sesuatu. Dalam pandangan ekonomi, produktif berarti mampu menghasilkan karya-karya yang berdampak pada keuntungan materi.

Di kalangan kaum terpelajar, produktif berarti mampu menghasilkan berbagai karya berupa ide-ide ataupun pandangan yang berguna bagi pemecah persoalan masyarakat. Untuk mencapai gelar professor, sebagai gelar akademik tertinggi saat ini, seorang calon guru besar/ profesor harus produktif, yaitu menghasilkan karya berupa penelitian dan karya lainnya.

Dalam sudut pandang Islam, produktif berarti mampu berkarya untuk Allah swt. Dalam bentuk apa? Tentunya, karya apa saja yang bernilai dihadapan Allah swt. Karya yang berguna bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karya yang mampu membawa seorang muslim ke surga. Karya yang membuat seorang muslim mulia di dunia dan akhirat.

Produktivitas pada umumnya lahir dari keinginan kuat untuk mencapai satu titik tertentu dalam hidup. Keinginan kuat tersebut lahir dari satu pandangan bahwa pencapaian tersebut menghasilkan suatu kebahagiaan.

Bukankah kebahagiaan merupakan tujuan yang paling dicari semua orang? Bagi seorang muslim, produktivitas lahir dari hasrat mengejar predikat takwa. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu”(QS. Al Hujurat: 13).

Sebab, predikat takwa adalah predikat tertinggi yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Alasannya, kedudukan tersebut menghasilkan satu kebahagiaan khas Islam, yaitu ridha Allah swt. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.”(QS. Al Bayyinah: 6-8).

Maka, semua bermula dari iman yang mantap. Iman yang berarti pembenaran secara pasti akan keberadaan Allah swt sebagai Sang Pencipta, keberadaan malaikat sebagai makhluk Allah swt, keberadaan rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, adanya hari berbangkit dan qadha qadar. Iman yang sempurna inilah kemudian menjadikan seorang muslim menjadi produktif.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...