Sabtu, 08 Juli 2017

(Riview) Kesan Makan di Warung Ayam Jingkrak Mas Budi Medan Tembung


Baru kali ini review produk kuliner. Biasanya buku. Kali ini tertarik bahas tempat makan, karena punya kesan istimewa. Sayangnyaaaa, maaf maaf nih ya, kesannya kurang menyenangkan.

Minggu pertama bulan Juli, masih suasana lebaran. Uang simpanan cukup aman hehe. Jadi sepakat sama suami pengen makan di luar. Jarang sih ya beginian. Biasanya beli makanan, dimakan di rumah.

Malam minggu itu, di luar rencana, kita akhirnya berhenti di sebuah tempat namanya Warung Ayam Jingkrak Mas Budi. Ini pengalaman pertama.

Terlihat dari luar tempatnya cukup asik. Kabarnya warung itu cabang ke tiga. Letaknya di jalan Tembung pasar. 8 no. 1, Medan. Tanpa pikir panjang saya dan suami masuk. Kami mempercepat langkah. Pasalnya lesehan yang kami tuju hampir penuh. Saat itu hanya tersisa satu meja lagi. Lesehannya bersih dan cukup luas untuk ditempati oleh keluarga dengan orangtua dan empat anak.

Kami memesan dua bebek penyet dan satu ayam penyet. Nasi sengaja bawa dari rumah. Lumayan ngirit. Gantinya nambah lauk hehe.

Harga bersahabatlah. Bebek penyet 18 rb dan ayam penyet 13 rb.


Kenapa juga kami nggak pesan menu andalannya, ayam jingkrak? Saat suami tanya sama pelayannya, "Diapain ayam jingkrak itu rupanya?"

Jawabnya, "Ayam goreng juga pak. Cuma sambalnya lebih pedas."

Tiba di rumah, baru ngeh maksudnya. Pedasnya sambal bakal bikin yang makan ayam jingkrak jingkrak kepedasan hehe.

Tak lama pesanan datang. Tampilan hidangan standar la ya. Menu utama ayam, dengan pendamping urap, daun kemangi dan sambal. Kami segera menyantap pesanan. Makanan kami hampir habis, saat suami nyeletuk, “serba asin ya”.

Suami saya normalnya orang jawa ya, senang yang manis-manis. Bagi beliau makanannya serba asin. 

Awalnya saya cuek. Tapi setelah saya hayati lebih dalam, iya memang. Bukan cuma lidah suami yang kurang nyaman. Saya yang bersuku batak dan nggak punya masalah dengan rasa asin atau manis pun merasa asinnya masakan melebihi batas normal. 

Ini catatan kami yang pertama, masakan keasinan.

Tentang sambal. Jujur ya mas Budi, masih perlu perbaikan lagi. Selain rasa asin dan pedas yang menggigit, kurang terasa gurih seperti pada umumnya sambal ayam penyet.

Trus, saya jadi mikir, kalau sambal ayam penyet dan bebek penyetnya sudah pedas begini, lalu sambal ayam jingrak yang katanya lebih pedas itu sepedas apa lagi ya? Hiii, ngeri perut saya. Maklum, saya punya masalah pencernaan. Nggak beranilah nyobain sambal yang lebih dari pesanan kami itu.

Potongan bebek yang kecil buat saya pengen merasakan menu lainnya. Saya pesan lagi ayam asam manis. Harganya sama dengan bebek penyet. 

Jadi suami makan bebek penyet dan ayam penyet, saya bebek penyet dan ayam asam manis. Hingga saya menghabiskan bebek penyet dengan perlahan, pesanan ayam asam manis belum juga datang. Kami pun memutuskan untuk membawa pulang saja pesanan terakhir itu.

Ini catatan kedua, pesanan datang cukup lama. 

Apa yaaa. Barangkali perbaikannya adalah nambah karyawan atau nambah kecepatan bergerak kali ya. Atau cari strategi lain supaya pembeli nggak selak bete nunggu. Ntah kompor yang ditambahi atau apa kek.

Sampai rumah saya menyantap ayam asam manis milik saya. 

Ini catatan ketiga ya mas Budi, ternyata ayamnya nggak cocok disebut asam manis, tapi asam aja. 

Kurang rasa manisnya. Warna sausnya juga tidak orange pekat, tapi orange pucat. Kenapa? Sausnya habis ya?

Sekali lagi maaf ya. Sebenarnya bila berbentuk saran perbaikan, enaknya disampaikan langsung pada karyawan di sana. Tapi semua karyawan terlihat sibuk. Saya khawatir kalaupun disampaikan, saran saya bagai angin lalu. Sementara tidak ada disediakan sarana buat pembeli memberi saran, ntah kotak saran atau apalah.

Jadi saya usul nih ya, biar unik gimana kalau disediakan kotak saran, biar ada masukan untuk perbaikan ke depan. 

Tentu pemilik warung berharap warung buka dalam waktu yang lama plus laris manis. 

Jadi mesti rajin dengar masukan dong ya. Moga ke depan ada perbaikan ya..

Catatan terakhir, kami cuma coba tiga menu. Masih banyak menu lainnya. Seperti olahan gurami, ikan, sayuran, cemilan dan minuman.

Barangkali menu lainnya jauh lebih baik dari pesanan kami. Ada yang mau berbagi pengalaman?

Maksudnyaaa, jangan kapok dulu buat nyinggahi warung ini. Ini kan kesan saya. Yang lain belum tentu sama. Bisa juga masakan malam itu berbeda kondisi dengan masakan hari-hari lainnya. Karena tempatnya asik, nggak ada salahnya kamu-kamu yang tinggal di Medan nyobain Ayam Jingkrak Mas Budi.

Smoga pegawai, sukur sukur owner Warung Ayam Jingkrak Mas Budi baca tulisan ini..

8 komentar:

  1. Makasih sharingnyaaa mbaaak. . Semogaaa bisa banyaak perbaikan di ayam jingkrak mas budi mbak ya. Aamiin. . Salam kenaal 😀

    BalasHapus
  2. Saya juga pernah makan disitu. Masukan saya hendaknya sayuran dijaga kondisinya, pasalnya urap yang saya makan bersama ayam pada saat itu, kondisinya sudah mendekati basi. Semoga ada perbaikan demi kepuasan pelanggan. Dan usaha Mas Budi pun lancar jaya.

    BalasHapus
  3. trmksih bnyk bro infonya sangat bermanfaat sekali.jadi lapar ni heheheh
    bolehlah mampir ke tempat aq heheheh

    BalasHapus
  4. namanya unik, mengundang penasaran. semoga ada perbaikan kedepannya biar pelanngannya balik lagi

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...