Minggu, 13 Agustus 2017

Mewujudkan Ekonomi Yang Sehat

(Review Buku)

Judul Buku   : Ekonomi Islam Mazhab Hamfara Jilid 2
                        Ekonomi Pasar Syariah
Penulis          : H. Dwi Condro Triono, Ph.D
Penerbit        : Irtikaz
Tahun terbit   : 2017
Ketebalan     : 380 hal
ISBN             : 978-602-72973-2-6

Pakar ekonomi Islam, Dwi Condro Triono pernah mendapatkan pesan Whatsapp dari seseorang. Isinya pernyataan dukungan pada kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi bahan bakar minyak (bbm). Alasannya, langkah pemerintah sudah sesuai dengan Islam.

Dalam hadist Rasulullah saw ada larangan mematok harga jual. Maka melepas harga jual bbm ke pasar dianggap langkah yang tepat. Orang tersebut sedang protes pada pak Dwi yang mengkritik kebijakan pencabutan subsidi oleh pemerintah. Bagaimana menurut anda?

Pak Dwi, yang merupakan penulis buku ini pun meluruskan pemahaman orang tersebut. Memang benar, bahwa Rasulullah saw melarang pedagang untuk mematok harga.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allahlah yang mematok harga, yang menyempitkan dan yang melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap bertemu Allah dalam kondisi tidak seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan harta.”(HR. Abu Dawud).

Tapi rupanya, dalil ini belum lengkap. Masih ada dalil lainnya. Rasulullah saw bersabda: “Kaum muslim berserikat pada tiga hal; air, rumput & api. Dan harganya adalah haram.”(HR. Ibnu Majah).

Bila dipahami dengan benar, maka maksud larangan mematok harga adalah ditujukan kepada barang dagangan selain dari air (laut/ sungai), rumput (hutan/ pulau) dan api (energi).

Ketiganya menurut Islam terkategori sebagai kepemilikan umum. Jadi bbm sebagai bagian dari energi tak seharusnya dijadikan komoditas bisnis, melainkan harus dikelola negara dan hasilnya digunakan untuk memberi pelayanan pendidikan, kesehatan maupun keamanan kepada rakyat secara cuma-cuma. Itulah jawaban yang tepat. Dan peristiwa tersebut menjadi contoh kesalahpahaman umat pada ekonomi Islam.

Dalam buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara jilid II ini, penulis berusaha menggambarkan tentang praktek ekonomi Islam seutuhnya, setelah sebelumnya membahas panjang lebar tentang ekonomi Islam dalam tataran filosofi pada buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara jilid I.

Buku ini sekaligus mencoba menjawab kegagalan sistem ekonomi kapitalis dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi berbagai negara di dunia. Kegagalan tersebut berangkat dari pemahaman dasar tentang apa yang disebut sebagai ekonomi yang sehat.  Ibarat tubuh manusia, sistem ekonomi dikatakan sehat apabila uang sebagai darahnya mengalir lancar ke seluruh lapisan masyarakat. Artinya, ekonomi yang sehat haruslah dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Apa yang dapat menjamin peredaran uang bisa lancar di tengah-tengah masyarakat, sehingga kebutuhan akan barang dan jasa dapat terpenuhi? Sistem kapitalisme memilih untuk mengandalkan peran pasar.

Mekanisme pasar bebas dianggap dapat mendorong kekuatan permintaan dan penawaran. Dalam hal ini sistem kapitalisme memandang, peran negara harus diminimalisir. Seperti kata tokoh ekonomi, Adam Smith, akan ada tangan-tangan yang tidak kelihatan (the invisible hands), yang akan mengatur perekonomian dengan sendirinya.

Dengan kata lain, dalam pasar bebas siapapun diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menekuni bidang apapun asalkan punya kemampuan. Dan uang menjadi instrument yang menjadi standar kemampuan tersebut.

Dari sinilah penulis membongkar kesalahan-kesalahan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam prakteknya, pasar bebas telah menjadi arena pertarungan antara segelintir pemilik modal. Dengan bantuan ‘dua kaki’ yang mereka ciptakan yaitu bank dan pasar modal, para pemilik modal menghegemoni perekonomian.

Kelahiran bank dan pasar modal, istilahnya sektor ekonomi non riil, telah menghambat uang mengalir ke sektor barang dan jasa (riil). Menurut Prof. John Gray dari Oxford University, perputaran uang di sektor non riil menyedot sebanya 95% dari $1,2 triliun uang yang berputar per harinya, sisanya hanya 5% yang benar-benar berputar di sektor riil (Karim, 2002, dalam Dwi Condro Triono hal. 67). Menurutnya, transaksi di pasar non riil hanya bersifat spekulatif, tidak mendukung pertumbuhan di sektor riil sama sekali.

Keberadaan sektor ekonomi non riil juga menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi. Warren Buffet dan Paul B Farrel (analis pasar modal) telah mengakui bahwa bubble economy di lantai bursa dapat menjadi senjata pemusnah massa (weapon of mass destruction) yang sangat kejam, yang lebih berbahaya dari senjata nuklir dan perdagangan obat bius.

Mereka menyebut bahwa perputaran uang di lantai bursa dapat menjadi racun perekonomian (economy toxid). Dalam sekejap, transaksi tersebut dapat “membunuh” perekonomian suatu negara, memiskinkan puluhan juta, bahkan ratusan juta umat manusia (Dwi Condro Triono hal. 91).

Hegemoni kaum kapitalis juga terjadi di sektor riil, didukung sejumlah faktor diantaranya oleh bentuk perusahaan perseroan terbatas (PT). Melalui akad PT, para majikan telah “merampok” nilai yang telah dihasilkan kaum buruh.

Kaum buruh hanya diberi sedikit upah, sedangkan kaum majikan yang tidak ikut dalam proses produksi, ternyata merekalah yang mengambil sebagian besar keuntungan dari penjualan barang tersebut (Dwi Condro Triono hal. 210). Permasalahan pun ada di sektor industri, lahan, ketenagakerjaan, permodalan dan perdagangan.

Dalam buku ini penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa solusi dari persoalan ekonomi kapitalisme bukan ekonomi Islam parsial apalagi sistem ekonomi sosialis komunis. Menurutnya, hegemoni para kapitalis akan semakin menjadi-jadi ketika solusi Islam yang ditawarkan adalah secara parsial yaitu islamisasi perbankan dan pasar modal.

Ditambah lagi, islamisasi terhadap ekonomi kapitalisme tidak menjadikan perekonomian menjadi murni Islam. Secara tegas, menurut penulis islamisasi perbankan dan pasar modal seperti ingin menyucikan jantung babi, tidak akan mungkin menjadi suci. Sementara sistem ekonomi sosialis komunis jelas tak seharusnya mendapat tempat di negeri beragama ini.

Penulis menawarkan untuk mengubah sistem ekonomi kapitalis dari dasarnya. Tubuh ekonomi kapitalis yaitu pasar bebas dapat diganti dengan tubuh sistem ekonomi Islam yaitu politik ekonomi Islam.

Secara lebih rinci, politik ekonomi Islam yang menjelaskan tentang kebijakan fiskal dan moneter dibahas di buku jilid III dari buku ini. Bukunya sedang dalam proses, insya allah segera terbit. Pembahasan dalam buku ini lebih kepada penjelasan seputar hukum-hukum Islam yang mengatur praktek ekonomi Islam.

Seperti adanya pembagian kepemilikan, larangan bertransaksi riba, solusi akad syirkah untuk mengganti akad perseroan terbatas, hukum Islam seputar industri, lahan, ketenagakerjaan, permodalan dan perdagangan. Hukum-hukum Islam tersebut menutup jalan para kapitalis untuk menguasai perekonomian.

Hukum-hukum Islam tersebut juga diyakini mampu menciptakan ekonomi yang sehat, menyejahterakan seluruh masyarakat. Dan yang menjamin semua hukum-hukum tersebut terlaksana adalah politik ekonomi Islam.

Dalam setiap bab pembahasan, penulis kerap melakukan komparasi antara sistem ekonomi kapitalis, sosialis komunis dan Islam. Ini salah satu keunggulan dari buku ini, karena cara tersebut mempermudah pembaca untuk memahami isi buku.

Disamping itu sedikit kekurangan yang akan kita temukan barangkali dari aspek berbahasa yang terkesan bertele-tele. Secara keseluruhan, buku ini recommended untuk siapa saja yang ingin memahami secara mendalam tentang praktek ekonomi Islam yang utuh.


Resensi ini dimuat di Harian Waspada Medan, 12 Agustus 2017

6 komentar:

  1. Keren buku dan reviewnya, bisa jadi refernsi bacaan untuk memahami penerapan ekonomi Islam. Terima kasih sudah berbagi, Mbak Eva:)

    BalasHapus
  2. Harus beli neh bukunya, saya pengen belajar juga tentang ekonomi syariah

    BalasHapus
    Balasan
    1. moggo mbak.. moga meraih banyak ilmu dari membacanya :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...