Selasa, 22 Agustus 2017

Panggung Buram

Aku Islam

“Ra, kan gak harus buka kerudung. Kamu tetap bisa ngemsi berpakaian adat tanpa buka kerudung kan.”

Vira hanya diam. Pena dalam genggaman gadis berkerudung, berkulit putih dan berhidung mancung itu menari-nari di atas buku yang sedang ditatapnya. Ia asyik melengkapi catatan pelajaran kemarin. Terpaksa ia ketinggalan pelajaran karena latihan membawakan acara pada perpisahan kakak kelas nantinya. Ucapan sohibnya tak dihiraukan. Baginya ocehan Titin hanya angin lalu. Ia sudah lama menunggu moment itu. Berdampingan dengan Rangga dan cuap-cuap berdua di atas panggung.

Titin menatap terus ke arah Vira, berharap Vira membalas tatapannya dengan binar penyesalan. Namun sia-sia. Vira tetap bergeming. Titin melemparkan pandangannya ke arah jendela. Ia mencoba mencari-cari kalimat apa yang dapat menyentuh pedirian sahabatnya itu. Ia tak rela, hanya karena pesona dunia Vira lemah. Ia yakin kebahagiaan hanya angan bila justru menjauh dari Sang pemilik kebahagiaan. Titin ingin Vira sadar.

“Ra, aku sayang sama kamu. Makanya aku ngingatin kamu. Bukankah wujud kasih sayang tertinggi bagi saudara seiman adalah nasehat pada agama? Nggak mungkin aku biarkan sahabatku lupa sama Allah.”

Vira menghentikan laju penanya. Rayuan Titin dibalas dengan tatapan garang. “Kamu nggak usah lebay amat deh. Aku masih salat. Aku masih tutup aurat. Aku cuma pengen terlihat sempurna saja di acara nanti. Lagian niatku baik kok. Mau melatih diriku supaya lebih percaya diri di atas panggung. Pakaian adat batak samosir tuh lebih alami terlihat kalau aku pakai sanggul. Aku cuma akan buka kerudung sekali ini saja. Kamu berhenti meneror aku. Dasar nyinyir.”

Puas meluapkan kekesalan Vira membereskan bukunya dan bergegas meninggalkan kelas. Titin terdiam. Ia tak menyangka begitu cepat Vira berubah. Rasanya baru kemarin mereka jalan bareng ke musala sekolah SMA Negeri 2 Medan itu, mengikuti kajian rutin yang diadakan oleh bagian keputrian OSIS .

Masih tergiang-ngiang di telinga Titin, harapan Vira untuk tak lagi buka kerudung setelah memahami materi tentang aurat. Vira pun ingin mulai belajar pakai jilbab[1]. Titin rindu Vira yang dulu. Vira yang menyambut nasihat Islam dengan antusias. Vira yang berusaha segera mempraktekkan ilmu Islam begitu ia memperolehnya. Vira yang hanif, yang mudah tersentuh kebenaran. Kini Vira telah melupakan tekadnya, sejak kenal Rangga.

*****

 Memasuki bulan kedua semester genap, Vira ketemu Rangga di perpustakaan sekolah.

            “Boleh duduk di sini?”

            Vira mendongak ke arah suara itu. “Hemmm, kamu Rangga kan?”

            “Oh masih ingat sama aku. Boleh duduk?”

            “Silahkan saja. Ini kan tempat umum.”

            Sebulan yang lalu keduanya sama-sama terdaftar sebagai peserta lomba pidato Bahasa Inggris antar sekolah yang diadakan oleh Komunitas Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara. Vira memperoleh juara ketiga. Dan peringkat pertama diduduki Rangga. Sebelumnya mereka tak pernah peduli satu sama lain. Belum pernah tegur sapa. Karena lingkungan kelas mereka berbeda. Vira kelas dua jurusan IPA. Sedangkan Rangga siswa setingkat yang masuk jurusan IPS.

 Mulai saat itu, ada kekaguman yang hangat meresap dalam dada Vira terhadap Rangga. Saingan yang mengalahkannya itu bukannya membuat ia kesal, namun malah salut. Aksi Rangga pada saat lomba memang memukau hampir seluruh hadirin yang ada dalam ruangan. Orasi seputar narkoba ia sampaikan dengan lugas dan jelas serta dengan bahasa tubuh yang pas. Dan itu dengan bahasa Inggris. Keistimewaannya disitu.

Jadi tidak salah lagi, sapaan Rangga sebenarnya melambungkan hati Vira ke langit-langit perpustakaan. Ia gugup bukan kepalang. Perasaan itu muncul dengan sendirinya, dan berusaha ia tutupi di hadapan Rangga.

“Lagi baca apa?” tanya Rangga.

“Nih”. Buku dalam  pelukan tangan Vira ditutupnya hingga terlihat bagian sampul buku bertuliskan Kiat-Kiat Menjadi Muslimah Saliha.

Rangga tersenyum. Sekilas mata Vira beradu dengan mata Rangga. Segera Vira menunduk, kembali menatap buku yang masih berada di depannya. Disandarkan bahunya ke kursi. Ia buka kembali lembaran-lembaran buku itu.

“Kamu nggak nyaman aku disini?” ucap Rangga

“Kok ngomong gitu?” Vira berkata sambil menoleh pada Rangga.

“Merasa saja. Soalnya aku mengganggumu membaca buku,” balas Rangga.

“Iya juga sih. Aku kira, kalau nggak ada hal penting yang ingin dibicarakan, baiknya kita masing-masing membaca saja tanpa suara.” Vira mencoba lepas dari percakapan tersebut.

“Aku ingin ngobrol sama kamu.” Ternyata Rangga enggan membiarkan Vira duduk tenang.

“Maaf, yang aku tahu, ngobrol dengan lawan jenis menurut Islam hanya seperlunya saja. Nggak perlu panjang lebar. Bahaya.” Bela Vira.

“Maksudnya?” tanya Rangga.

“Bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang nggak baik,” jawab Vira.

Rangga tersenyum sinis.

“Vira. Ini tempat umum. Apa yang bisa kita perbuat di keramaian seperti ini? Kamu itu cerdas. Harusnya kamu nggak kaku gitu. Aku kan cuma mau sahabatan aja sama kamu. Aku mau berbagi pikiran sama kamu. Masak nggak boleh. Kan Islam nyuruh kita mempererat silaturahmi? Ya kan?”

Vira hanya diam. Perasaannya bergejolak. Ada kenyamanan berada di dekat Rangga. Namun ada kekhawatiran di sisi lain bahwa apa yang ia lakukan salah dimata Islam.

Yang aku lakukan ini benar atau salah. Dia yang menyapaku. Nggak sopan amat aku ninggalin dia gitu aja. Dia kan cowok baik.  Tapi gimana kalau aku salah. Tapi aku kan nggak berbuat apa-apa, cuma ngobrol aja. Ngomongin tentang ilmu kan nggak masalah ya.

Bisik hati Vira sahut-sahutan memberi penilaian pada apa yang sedang terjadi. Sampai pada satu titik tertentu, Vira memutuskan untuk menuruti rasa nikmat dalam hatinya. Sementara Rangga masih menunggu jawaban Vira sambil membolak-balik lembar buku yang sedari tadi dipegangnya.

“Kamu hobi baca buku apa?” Vira menyapa Rangga. Senyum kembali terlihat di bibir Rangga.

“Aku suka cerita kungfu. Baru saja menyelesaikan seri silatnya Kho Ping Hoo. Komik Naruto juga suka”. Sebut Rangga antusias.

“Lelaki amat,” Vira tersenyum.

“Kalau kamu gimana?” balas Rangga.

“Aku merasa haus ilmu Islam. Sedang banyakin baca buku keislaman aja. Novel Islami juga suka”. Vira tak kalah antusias menceritakan hobinya.

“Bagus deh. Biar kamu makin pintar,” puji Rangga.

“Eh kamu gimana sih bisa lancar gitu ngomong bahasa inggrisnya? Aku kagum loh lihat kamu waktu lomba itu. Aku sih yakin kamu bakal menang. Bagus sih.” Ceplos Vira.

“Sederhana, ala bisa karena biasa. Aku membiasakan diri mendengar ucapan-ucapan bahasa inggris di youtube. Baca buku berbahasa inggris. Dan nggak kalah penting, gabung english club. Dengan sesama teman pencinta bahasa inggris, ada teman latihan dan kita bakal lebih konsisten.” Terang Rangga.

“Iya sih, standar emang  resepnya. Belajar apapun mesti gitu, membiasakan diri.” Timpal Vira.

Buku-buku dihadapan mereka menjadi saksi bisu keakraban yang mulai terjalin. Tawa canda menghiasi tiap pertemuan mereka. Di toko buku, perpustakaan umum dan taman bacaan mereka bertemu. Tiga bulan berteman, enam kali sudah mereka menikmati kebersamaan. Buku-buku menjadi perantara, yang membuat Vira cukup tenang karena menganggap apa yang terjadi bukan kesalahan. Toh, mereka bertemu karena ilmu.

***

Perpustakaan Daerah Sumatera Utara hari itu tampak ramai. Disana sedang diadakan bazar buku memperingati ulang tahun kota Medan. Berbagai posko berjejer di samping kiri dan kanan halaman perpustakaan menjajakan berbagai jenis buku. Tersedia buku-buku penunjang pendidikan sekolah, novel remaja, buku anak, resep masakan, berbagai buku tips dan lain sebagainya. Rata-rata buku dijual berkisar antara lima ribu hingga tiga puluh ribu rupiah. Di atas posko bertuliskan nama-nama penerbit buku mayor yang sudah tak asing lagi bagi para pencinta buku.

Beberapa posko tampak ramai pengunjung. Di sekitar kerumuman pengunjung terlihat buku-buku berserakan khas orang Indonesia. Di ujung bagian tengah area berdiri panggung yang berisi kegiatan perlombaan untuk pelajar. Lomba puisi, pidato dan bercerita silih berganti menghiasi panggung. Pengunjung bazar bertemankan suara-suara yang berasal dari atas panggung. Dan Rangga sedang melihat-lihat berbagai buku seputar otomotif tak jauh dari panggung.

Sesekali Rangga melirik jam tangannya, lalu kembali memandangi satu persatu buku otomotif di daerah itu. Tiba-tiba saku celana panjang sebelah kanannya bergetar. Dirogohnya segera lalu dikeluarkan ponsel dari sana. Ada sms dari Vira.

Aku udah nyampek gerbang perpustakaan, Rangga dimana?

Rangga bergegas menuju gerbang perpustakaan menemui Vira. Tak lama mereka sudah berjumpa lalu bersama melangkahkan kaki menuju area bazar.

“Aku lama ya?” Tanya Vira

“Lumayan.” Rangga membalas sambil tersenyum.

Vira berjalan di depan, seolah menuntun Rangga menuju lokasi yang diinginkannya. Vira memasuki posko yang dipenuhi buku-buku obral seharga sepuluhribuan bergenre chicken soup.

“Aku mau lihat-lihat disini. Kalau kamu mau cari buku favoritmu pergi aja.” Ucap Vira

“Aku undang kamu ke sini bukan cuma mau lihat-lihat buku. Aku pengen diskusi sesuatu sama kamu.” Rangga sedikit mengeraskan suaranya untuk mengimbangi suara dari panggung acara.

“Oh, apaan?” Balas Vira.

Rangga memberi isyarat pada Vira untuk mengikutiya ke arah bangku yang terletak cukup jauh dari panggung. Rangga dan Vira duduk sambil mengatur jarak. Ada satu buah bangku kosong diantara mereka.

“Aku ditunjuk panitia acara perpisahan nanti buat jadi MC. Kamu tahu kan tugas aku tuh berat. MC menentukan acara berjalan sukses, lancar, meriah atau sebaliknya. Nah aku butuh pendamping. Aku pilih kamu. Mau?”

Belum sempat menjawab, tas mungil yang dari tadi tersandang di bahu Vira bergetar tanda ponselnya berbunyi. Sms dari Titin.

Hari ini nggak muncul lagi Ra. Udah tiga kali kamu nggak hadir pengajian. Kemana aja Ra?

Vira membalas sekenanya.

Maaf lagi sibuk Tin. Sampaikan maafku sama mbak Maya ya.

”Apa tadi, ngemsi? Gimana tuh ceritanya?” Vira melanjutkan obrolannya dengan Rangga.

“Iya, aku  mau minta kamu jadi MC pendamping aku. Gimana, bersedia kan?”

“Hemmm, aku pikir-pikir dulu ya.” Pinta Vira

“Aku tunggu sampai besok. Kalau besok ternyata kamu nolak, aku segera sampaikan ke teman yang lain.” Desak Rangga.

“Kamu punya calon lain selain aku?” Tanya Vira bernada ketus.

“Tentu. Aku kan nggak bisa jamin kamu bersedia mendampingiku. Aku jadikan kamu kandidat utama karena aku menilai kamu cukup pintar. Rencananya, aku bakal atur nantinya kita secara bergantian membawakan acara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menurutku kamu cocok. Tapi kalau kamu nggak bersedia, terpaksa aku cari yang lain.” Ancam Rangga.

Ucapan Rangga menusuk hati Vira. Kata hatinya berkata jangan sampai kesempatan itu diambil cewek lain. Vira nggak rela.

Tapi ia juga bingung. Bagaimana kalau teman-teman pengajiannya tahu? Kadang datang juga perasaan bersalah dalam hati Vira saat bertemu Rangga dan menyembunyikan pertemuan itu dari teman-temannya. Namun segera Vira menepis rasa itu. Ada pembenaran yang hadir dalam benaknya tiap kali rasa bersalah itu datang. Aku hanya berteman saja kok. Aku nggak ngomongin yang macam-macam kok.

“Sepertinya menarik juga tawarannya. Oke aku ambil.” Vira segera memutuskan

Sesaat mendengar jawaban Vira, Rangga mengamati satu persatu posko yang ada lalu melangkah ke salah satu posko yang tadi sempat dikunjunginya sejenak, sebelum akhirnya ia berlama-lama bercengkrama dengan buku otomotif.

Diraihnya satu buku dan dibawanya ke kasir posko tersebut. Iya keluarkan lembaran uang lima ribu rupiah. Tak lama ia sudah berada kembali di dekat Vira.

”Vir, coba kamu lihat gambar ini. Unik ya. Maksudnya, jarang ya kalau acara-acara kayak perpisahan gitu pakai pakaian adat batak. Kalau kebaya kan udah umum. Lagian kebaya khas budaya Jawa. Kita kan sumatera. Aku pengen tampilin yang unik. Menurut kamu gimana, kalau kita pakai salah satu pakaian adat batak untuk seragam kita nanti”.

Vira membisu. Matanya hanya mengikuti telunjuk tangan kanan Rangga yang menyentuh lembaran buku yang dipegangnya.

“Ni bagus, pakaian batak Simalungun. Nggak salah kepala sekolah kita juga asal Simalungun kan? Beliau bisa bangga lihat kita pakai pakaian ini. Menggunakan pakaian berbahan Hiou[2],  gotong[3], bulang[4] dan kain suri[5]. Ikat pinggang lelakinya gagah ni. Gimana menurut kamu?”

“Versi hijabnya gimana Ngga? Dipakai aja gitu ya”. Tanya Vira.

“Coba kamu lihat. Sebenarnya kepala wanita ini sudah tertutup setengahnya. Yang terlihat hanya sanggul saja. Aku pikir akan lebih asli kalau kita tiru pakaiannya persis seperti yang digambar ini. Suasana bataknya juga bakal lebih kental terasa Vir”.

“Maksud kamu aku buka kerudung? Nggak.”

“Sebentar aku bayangin kamu pakai kerudung dengan pakaian ini. Emmm, nggak mecing Vir. Kan cuma sekali doang Vir. Besok-besok silahkan aja kamu pakai kerudungmu. Nggak masalah”.

“Kamu keterlaluan. Aku mau pulang duluan.” berlalu pergi meninggalkan Rangga.

***

Tiiitttt tiiitttttt….

Bunyi ponsel Vira membuyarkan lamunannya. Ia bangkit dari tempat tidur menuju meja belajar, lalu mengambil ponsel itu.

Vir aku hargai prinsip kamu. Tapi maaf aku nggak bisa penuhi permintaan kamu. Kamu ingat Hani, pemenang kedua lomba kemarin. Dia bersedia jadi pendamping aku Vir. Kita tetap sobatan kan? Met tidur Vir.

Hati Vira sesak. Iya tak suka mendengar nama lain dekat dengan Rangga. Tapi Rangga meminta sesuatu yang tak bisa dipenuhinya. Ia bingung harus berbuat apa.

Vira mondar mandir di kamarnya. Sesekali wajahnya menengadah ke atap kamar. Rekaman moment bersama Rangga memenuhi pikirannya. Ada kesejukan terasa dihatinya. Rangga begitu lugas menjelaskan banyak hal padanya. Rangga gudang ilmu. Rangga anak yang cerdas. Rangga juga humoris. Menyenangkan. Nggak membosankan sama sekali.

Ia menimbang-nimbang manfaat yang bakal diperolehnya kalau menuruti kata-kata Rangga. Melatih kepercayaan diri. Lebih dikenal kakak kelas dan para guru. Dan yang terpenting, ada Rangga disampingnya.

Begitu banyak manfaat yang didapat kenapa harus ditolak? Toh  Allah Maha Pengampun. Aku bukan menelanjangi diriku. Aku masih berada dalam batas wajar.

Vira tak kuasa menahan diri. Perlahan tapi pasti ia meninggalkan satu persatu prinsip Islam yang sempat dianutnya. Bukan boleh atau tak boleh menurut Islam lagi, tapi pertimbangan manfaat yang membenarkan perbuatan. Vira mencoba peruntungan dengan kirim pesan ke Rangga.

Ngga, sikapku belum final kemarin. Sebenarnya aku pengen nyobain. Kamu udah terlanjur bilang ke Hani ya. Seandainya masih bisa.

Tak menunggu lama, balasan yang diharapkan Vira dikirim
Dari awal aku kan emang pilih kamu Vir. Beres deh ntar aku batalkan ke Hani. Senang kerjasama sama kamu J

***

            Isyarat tanda istirahat belajar berbunyi, Vira dan Titin langsung berjalan beriringan menuju kantin.

            “Tin, kalau kamu dapat kesempatan emas yang mungkin nggak datang dua kali, kamu ambil nggak?” Vira berkata pada Titin yang duduk tepat di depannya dan sedang asyik mengunyah bakso makanan favoritnya.

            “Tergantung, kesempatan apa dulu nih. Selama dibenarkan Allah, kalau aku suka bakal aku ambil dong”, tukas Titin.

            “Aku terpilih buat ngemsi di perpisahan nanti.” Ucap Vira.

            “Oh bagus dong”. Titin masih fokus dengan mangkuk baksonya.

            “Cuma ada sedikit masalah. Aku mesti pakai pakaian adat batak Mandailing. Pakai sanggul dengan penutup kepala khas pakaian itu.”

            “Siapa yang mengharuskan?” Tanya Titin dengan suara terdengar terkejut.

            “Pasangan ngemsiku”. Jawab Vira.

            “Loh, apa hak dia mengharuskan kamu membuka kerudung. Kamu berhak menolak dong. Emang dia siapa. Kok seenaknya ngatur-ngatur kamu. Coba kamu sampaikan ke paitia minta ganti pasangan. Atau nggak usah sekalian Ra. Buat apa hanya karena ngemsi sesaat kamu dapat dosa. Nggak banget Ra.”

            “Aku udah pikirin masak-masak Tin. Pakaiannya nggak terbuka kok kecuali setengah kepala bagian bawah. Aku pengen ambil kesempatan ini. Aku pikir ini bagus.”

            “Ra, kamu sadar yang kamu lakukan? Kamu paham kewajiban menutup aurat. Kamu anak pengajian Ra. Kamu kan punya daya tawar. Kamu bisa meminta untuk tetap pakai kerudung!”

            Rentetan kalimat Titin menyinggung Vira. Bukan ini yang ia harapkan. Keinginannya bulat menjadi pendamping Rangga di acara perpisahan nanti. Dan ia butuh dukungan, bukan repetan. Vira bangkit dari duduknya menuju ibu kantin, membayar makanannya lalu kembali ke kelas tanpa menoleh apalagi mengajak Titin. Tak lama Titin menyusul Vira ke kelas.

***

            Acara perpisahan semakin dekat, tinggal satu minggu lagi. Sudah seminggu lebih sejak perselisihan Vira dan Titin, mereka tidak bertegur sapa. Vira selalu menghindari Titin tiap kali Titin ingin menegur. Hari ini sehabis waktu belajar Vira kembali latihan bersama Rangga di ruang OSIS.

Tanpa sengaja mata Titin bertemu sosok Vira saat melalui ruangan itu. Vira bercengkrama dengan Rangga dan pengisi acara lainnya. Raut kesedihan tampak di wajah Titin. Sahabatnya semakin jauh darinya. Bukan saja kabar bahwa Vira hendak buka kerudung yang menyedihkan. Kedekatan sama Rangga juga mengecewakan Titin. Pemahaman Islam tentang pergaulan sudah pernah sampai ke Vira. Tapi Vira mengabaikannya. Titin cuma bisa menyimpan harap, semoga Allah berkenan mengetuk pintu hati dan pikiran Vira hingga ia kembali seperti Vira yang Titin kenal.

***

            Pagi yang cerah, Hotel Gran Aston Medan, tempat acara berlangsung mulai ramai oleh peserta. Dibelakang panggung Vira bersiap-siap untuk didandani. Tinggal menunggu nasi gurih di piring Vira dan penata rias habis. Vira merasa gugup, beberapa jam lagi acara akan dimulai. Vira berpesan pada penata rias agar mendandaninya secara minimalis.

Tak lama Rangga muncul dengan setelah pakaian adat Simalungun sesuai rencana. Ia tampak gagah menggunakan pakaian itu.

“Kamu siap Vir. Sebentar lagi kita tampil.”

“Insya allah.”

“Kamu cantik.”

Vira tersipu mendengar pujian Rangga.

Tepat pukul delapan pagi, tirai panggung dibuka perlahan, hingga paggung tampak secara keseluruhan. Vira dan Rangga berdiri bersebelahan di sisi panggung bagian kanan. Mereka pun kompak berjalan bersama menuju bagian tengah panggung.

Beberapa langkah mereka berjalan, tangan kanan Rangga tiba-tiba menggenggam tangan kiri Vira. Terkejut bukan kepalang, Vira menoleh ke arah Rangga. Ini tak sesuai skenario yang ada. Tak pernah sekalipun kulit mereka bersentuhan sebelumnya. Sejauh-jauhnya Vira meninggalkan kebiasaan lamanya, namun berpegangan dengan pria asing tetap pantang baginya.

Mendadak Vira merasa panggung yang terang benderang berubah redup. Tatapan ratusan pasang mata dihadapannya bagai mencela dirinya. Keindahan yang selama ini ia rasakan tiap kali bertemu Rangga kini hampa. Vira merasa harga dirinya dijatuhkan. Namun Vira tak kuasa bereaksi lebih jauh kecuali sebatas tatapan penyesalan pada sikap Rangga. Peran ini terpaksa ia mainkan sampai tuntas.

Saat break Vira hanya duduk diam. Ia menahan air mata. Malu pada apa yang baru saja terjadi. Terbayang olehnya wajah tulus Titin yang berkali-kali mengingatkannya bahwa yang ia kejar adalah kebahagiaan semu. Vira ingin segera memeluk Titin. Vira tiba-tiba rindu suasana bersama teman-teman pengajiannya.



[1] Pakaian lurus yang biasa disebut gamis
[2] Kain sejenis ulos khas Simalungun
[3] Tutup kepala untuk laki-laki
[4] Tutup kepala perempuan
[5] Kain Selempang
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...