Sabtu, 09 September 2017

Romantisme Rumah Tangga Saya


Di sesi sharing bareng adek adek jomblo saliha kemaren, saya diminta cerita tentang romantisme kehidupan rumahtangga saya. Alasannya, saya menjemput jodoh tanpa pacaran. Penasaran mereka gimana interaksi saya dengan suami.

Bertemu jodoh dengan jalan ta’aruf saya syukuri banget. Sebab dari kajian Islam yang saya dapatkan, saya meyakini jodoh yang baik akan ketemu kalau jalan yang ditempuh baik pula. Seperti janji Allah swt dalam al qur’an, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, demikian sebaliknya.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan suami saya, harapan dulunya cukup terpenuhi. Dua hal yang paling saya harapkan dulu, punya suami yang nggak galak, nggak suka bentak dan cinta ilmu.

Kenapa yang nggak galak? Ceritanya saya sejak kecil diperlakukan galak oleh adik ibu yang merupakan satu-satunya lelaki di rumah. Maksud tulang saya barangkali mendidik. Supaya saya disiplin, kalau melanggar aturan maka saya akan dapat hukuman bentakan dan pukulan.

Udah bosan diperlakukan kasar, mohon betul sama Allah swt jodoh saya kelak bersikap lembut. Nggak mukul dan nggak bentak.

Kenapa harus yang cinta ilmu? Saya baru melek ilmu. Sebelumnya ilmu di sekolah dan kuliah lewat gitu aja, lebih untuk mendapatkan nilai. Sesudah itu bablas nggak peduli. Yang penting bisa bertahan hidup dan bisa senang-senang.

Sejak ikut kajian Islam rutin di usia 24 tahun, baru benar-benar sadar pentingnya ilmu. Kebayang dong minimnya pemahaman saya tentang kehidupan. Jadi saya pun berharap punya suami yang sukanya belajar, hobi baca buku, haus ilmu, hingga bisa membimbing saya. 

Saat suami nyatakan niat memperistri saya, istikharah jadi senjata saya. Minta betul sama Allah swt yang Maha Kuasa. “Ya Allah, jika dia memang baik untuk agamaku, mudahkanlah. Kalau dia buruk untuk agamaku, jauhkanlah”. Begitu doa saya dulu. Alhamdulillah harapan saya kesampaian.

Ketika ditanya gimana romantisme rumahtangga saya, intinya tiap suami memperlakukan saya dengan baik dan memudahkan saya menimba ilmu, saya merasa beliau romantis. Suami bagi saya adalah pemimpin, sahabat dan guru.

Beliau tegas pada satu kebijakan rumah tangga saat kondisi membutuhkan tegas. Beliau juga jadi imam saya salat. Beliau memperbaiki bacaan al qur’an saya. Beliau tempat saya bertanya kalau saya kesulitan memahami suatu penjelasan di buku.

Suami saya dikenal oleh teman-temannya sebagai gudang informasi karena banyak membaca. Konsisten juga belajar bahasa arab. Sehingga cukup bisa menjawab banyak pertanyaan saya.

Beliau semampunya menyediakan sarana belajar bagi saya. Membelikan buku-buku yang saya minta. Melengkapi saya dengan komputer dan sinyal internet. Memudahkan saya juga belajar tahfizh sama seorang guru.

Saya pun nyaman setiap diajak diskusi sama suami. Saat itu saya rasakan suami sebagai sahabat plus sisi romantisnya dapat juga. Sambil kita diskusi tentang suatu masalah disertai canda tawa, saya merasa bahagia.


Hingga usia pernikahan menginjak lima tahun, saya merasa nyaris tak punya masalah rumah tangga, karena suami saya begitu istimewa. Meski tak mungkin hidup bebas masalah. Barangkali satu cobaan yang cukup serius buat dipikirkan, yaitu gimana mengundang belas kasihan Allah swt agar keluarga kami dilengkapi anak. Masih terus berusaha. Semoga Allah swt berkenan menyempurnakan keluarga kami.

6 komentar:

  1. Alhamdulillah semoga senantiasa sakinah, mawaddah wa rahmah

    BalasHapus
  2. alhamdulillah semoga kejombloan saya berakhir di pelaminan saja
    kisah yang inspiratif mbak.

    BalasHapus
  3. Amin, semoga Allah menganugerahkan istiqamah dan SaMaWa.

    BalasHapus
  4. spesifik ya mbak doanya, sepertinya aku harus belajar dari mbak :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...